Jurus Puffin Paint Kembangkan Cat Lokal Berkelas Internasional

PT Indowijaya Sakti Teguh dirikan pada tahun 2012. Perusahaan yang memproduksi berbagai macam jenis cat dengan merk Puffin Paint dan Nucolour

PT Indowijaya adalah anak perusahaan dari Indopenta yang bergerak di bidang industri keramik bermerek Grand Royal. Perusahaan yang berbasis di Jakarta ini memiliki jaringan distribusi di sejumlah kota di Indonesia. Pabrik keramiknya berlokasi di Bogor, Jawa Barat.

Nah, kiprah Erwin selaku direktur Puffin Paint yang menggeluti bisnis cat tembok bermula dari pengamatan dan pengalamannya di bisnis bahan-bahan bangunan di Indopenta. “Saya melihat peluang bisnis cat tembok. Selama ini cat tembok adalah satu-satunya bahan bangunan yang belum dijual Indopenta,” ungkapnya. Dia meyakini, peluang pasar cat tembok sangat potensial karena skala pasarnya sangat besar. “Kalau keramik itu kan hanya sekali digunakan konsumen dalam jangka waktu yang lebih lama, tetapi konsumsi untuk cat mungkin setiap tiga tahun sekali, sehingga market-nya besar sekali,” ia menjelaskan alasannya menekuni bisnis cat tembok.

Perjalanan bisnis Erwin tidak bisa dilepaskan dari kegigihannya mendirikan Indowijaya pada 2012. Modal awal pendirian perusahaan tersebut bersumber dari pinjaman dan subsidi Indopenta. Erwin bercita-cita, Puffin Paint menjadi industri cat karya anak bangsa yang dapat menguasai pasar nasional dan internasional. “Puffin Paint beroperasi hampir tiga tahun.

Awalnya, cat dinding yang dijual Erwin nyaris mirip dengan produk sejenis di pasaran. “Kinerja kami mengalami naik-turun di tahun pertama,” ia mengungkapkan. Ia lalu mencari celah bisnis agar cat temboknya bisa digemari konsumen serta mendongkrak omsetnya. Berdasarkan pengamatannya, Erwin memproduksi cat tembok untuk segmen menengah-bawah. Alasannya, cat tembok premium yang sudah ada di pasaran memiliki pangsa pasar tersendiri dan konsumen lebih mengutamakan merek-merek cat tembok tersebut. Akibatnya, konsumen tidak mudah jatuh hati ke merek cat tembok lainnya. Itulah alasan Erwin memproduksi cat tembok yang menyasar segmen pasar tersebut. “Akhirnya, saya memproduksi Nucolour, yaitu cat tembok untuk segmen menengah-bawah. Produk tersebut lumayan laris,” ujarnya.

Nucolour merupakan cat dinding eksterior. Harga jualnya berkisar Rp 800.000 per kaleng yang berbobot 25 kilogram. Garansinya tiga tahun. Respons pasar terhadap Nucolour sangat menggembirakan. Lalu, Erwin memperluas sayap bisnisnya melalui distribusi yang dimilikinya sendiri. “Jumlah distributor sebanyak 25 cabang, mayoritas berada di Pulau Jawa, sedangkan cabang di luar Pulau Jawa sebanyak lima unit,” pria kelahiran Jakarta 17 Maret 1987 ini menerangkan. Tahun lalu, ia mengubah strategi distribusi Puffin Paint ke agen-agen penjualan. Tujuannya, agar saluran penjualan cat temboknya lebih fokus dan tepat sasaran. “Saat ini, jumlahnya sebanyak lima belas agen penjualan. Nantinya penjualan melalui distributor mulai dikurangi karena saya akan menjualnya ke agen-agen penjualan,” Erwin menambahkan.

Saluran penjualan cat temboknya dibarengi dengan produk yang inovatif. Indowijaya pada September 2015 merilis cat antiserangga yang diberi merek Insect Guard. Kehadiran produk yang inovatif adalah opsi yang dipilih Erwin untuk menerobos pasar. Hitungannya tidak meleset karena Insect Guard mampu mendongkrak nama perusahaannya dan Puffin Paint. “Insect Guard adalah produk buatan Indonesia yang diproduksi di pabrik kami di Cileungsi, Bogor,” katanya dengan nada bangga.

Erwin melihat ceruk bisnis yang menggiurkan bagi pasar cat tembok antiserangga. Berdasarkan kajian internal Indowijaya, ia menyimpulkan bahwa konsumen domestik membutuhkan cat tembok antiserangga. Bahan Insect Guard ini tediri dari bahan pengikat akrilik khusus dan mengandung zat kimia alami yang berasal dari ekstrak biologis dan tumbuh-tumbuhan yang berfungsi untuk mengusir aneka serangga. Produk ini sudah melalui serangkaian tes dan ujicoba serta terdaftar di HSE (Health & Safety Executive) Inggris. Daya tahan cat ini lebih dari tiga tahun, mudah dibersihkan, aman, dan antijamur. Cat tersebut sudah diproduksi dalam 10 warna. Erwin menyebutkan, pihaknya di tahun 2016 akan menambah varian warnanya hingga 1.100 pilihan. “Sedangkan target penjualan Insect Guard pada semester I tahun ini sebesar 300 ton/bulan,” ujarnya. Harga cat itu dibanderol Rp 200 ribu untuk kemasan 5 kg atau Rp 1,2 juta untuk kemasan 25 kg.

Erwin mengklaim, Insect Guard tidak ada pesaingnya di pasar domestik. Cat antiserangga di luar negeri, lanjutnya, tersedia di Jepang, Malaysia, serta negara-negara Afrika dan Eropa. Ke depan, ia akan menguji tes tingkat keracunan Insect Guard di Singapura. “Hasil tes di Singapura menjadi modal untuk mengekspornya ke luar negeri,” tuturnya. Untuk menaikkan performanya, Erwin bertekad untuk terus berinovasi serta mengembangkan produk dan komunikasi pemasarannya.

Source : swa.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *